Review Jurnal Internasional

Perilaku Petani dalam Membudidayakan Tanaman Lily

Abstak

Dunia tak pernah lepas dari masalah lingkungan dan kesehatan yang semakin membahayakan. Karena itu, saat ini semua orang berlomba-lomba menunjukan kepedulian mereka kepada alam dan lebih cenderung menggunakan obat herbal karena lebih aman dibandingkan dengan obat-obat lain yang lebih mahal harganya dan mempunyai efek samping yang berbahaya.

Organisasi badan kesehatan (WHO) memperkirakan bahwa 80% orang didunia ini telah mengkonsumsi obat tradisional untuk kebutuhan primer mereka. Penelitian ini dilakukan di Dindigul dan Tuticorin distrik Tamil Nadu dengan menggunakan sampel sebanyak 100 petani lily. Mereka diambil dari masing-masing desa dan menggunakan teknik random sampling.  Data yang dikumpulkan melalui wawancara terstruktur. Dari situ ditemukan fluktuasi yang tinggi dalam bidang pemasaran, saluran pemasaran, distribusi pembelian benih lily dan lain-lain.

Pendahuluan

Dunia tak pernah lepas dari masalah lingkungan dan kesehatan yang semakin membahayakan, saat ini banyak orang yang lebih berminat untuk kembali ke alam dengan menggunakan obat-obatan herbal yang tidak memiliki efek samping dibanding obat-obat yang biasanya yang memiliki harga cenderung lebih mahal.

WHO memperkirakan 80% dari penduduk di negara-negara bergantung pada obat-obatan tradisional  yang berguna untuk kesehatan mereka.  Total pasar global untuk sistem ini hanya bergantuk pada produk herbal utnuk perawatan. Total pasar global untuk tanaman obat bernilai sekitar 150 milyar dolar dan di India hanya 1,3 milyar dolar (0,9%).

Metodologi Penelitian

–          Pemilihan daerah studi

Pemilihan daerah studi dalam penelitian ini diambil di negara bagian Tamil Nadu karena di negara tersebut tanaman lily yang dapat dijadikan obat dapat berkembang dengan sangat luas.

–          Pemilihan petani

Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling acak.  Teknik ini digunakan untuk memilih para petani untuk mengolah tanaman yang akan menjadi obat nantinya. 100 petani dipilih secara acak dari masing-masing desa yang diambil secara acak. Presentase digunakan untuk menganalisis perbandingan sederhana.

–          Saluran pemasaran

Saluran pemasarannya adalah umbi-umbian dan biji yang telah diidentifikasi.  Umbinya adalah bahan untuk menyebarkan lily.  Peneliti lebih cenderung memilih umbi dibanding menggunakan benih. Karena bila menggunakan benih, biit lily dapat tumbuh dengan jangka waktu yang lama.

–          Metode fiksasi harga

Para responden mengadopsi dua praktek utama yaitu negoisasi dengan eksportir atau petani menentukan harga dari broker.

–          Manajemen pasca panen

Polong matang dipanen secara manual dengan menggunakan sinar matahari selama 1 minggu.  Biji bunga lily dipisahkan dari polong dengan memukul-memukulnya dengan tongkat. Teratai bunga lily tersebut dengan mudah dapat dipisahkan sehingga menjadi polong kering.  Selanjutnya, beih tersebar di lantai semen. Benih dikeringkan dengan kelembaban konten turun ke 10-12 %. Sebagian dari petani mengikuti manajemen pasca panen. Para petani tidak mengalami kesulitan dalam menemukan cukup ruang utnuk pengeringan biji teratai lily selama musim puncak manajemen. Masalah ini dapat diperparah bila hujan turun setiap harinya. Ini menjadi sangat sulit menjadikan biji menjadi kering dengan berbagai tahap. Jika biji itu tidak benar-benar kering, maka biji tersebut akan berubah warna menjadi hitam dan itu menyebabkan kualitas biji lily berkurang.

–          Metode transportasi

Polong dipanen dan diangkut ke lantai oleh buruh. Benih kering diangkut dari eksportir atau broker ke gudang oleh petani.

–          Sumber informasi pasar untuk tanaman lily

Sumber untuk mendapatkan informasi pemasaran terkait dengan skor 2,51 dari 3,00 diikuti oleh broker (2,10), pedagang lokal (1,56), eksportir (0,90), masukan dealer (0,75), sumber universitas (0,20) dan internet (0,09), sedangkar sumber-sumber seperti personil ekstensi, emdia cetak, televisi dan radio tidak dianggap sama sekali sebagai sumber informasi pasar.

Kesimpulan

Dari penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa eksportir adalah kunci informasi pemasaran kepada orang lain. Mereka mungkin tidak memberikan informasi-informasi yang akurat kepada petani karena kepentingan mereka mondar-mandir memaksimalkan keuntungan dan tidak memberikan kesempatan untuk orang lain memasuki pedagangan.

Referensi

Natesh, S. and Ram. H.Y. 1999. An update of Green Medicine, J. Indian Bot. Soc., 78: 13-23.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: